Secara umum, Fibonacci adalah metode perhitungan matematika yang dicetuskan oleh seorang
matematikawan asal Italia, Leonardo Fibonacci Da Pisa. Perhitungan menggunakan Fibonacci
nantinya akan sering ditemui dalam trading, jadi sebaiknya kita berusaha
untuk memahaminya.
Indikator Fibonacci retracement akan sangat berguna pada saat market sedang trending. Ide
dasar dari indikator ini adalah buy di level support Fibonacci retracement ketika trend
sedang naik dan sell pada level resistance Fibonacci retracement pada saat trend sedang
turun.
Fibonacci yang canggih ini pun ternyata tak selalu menuntun kita ke jalan yang benar. Jangankan
cita-cita tercapai, yang ada justru akun kita yang melunglai. Terutama jika kita tidak melakukan
manajemen risiko sebelumnya. Wah, bisa begitu ya? Terus, bagaimana ini? Di kelas ini, kita akan
ungkapkan sisi gelap Fibonacci tersebut.
Salah satu cara yang terbaik adalah mengkombinasikan Fibo dengan memerhatikan level-level
support dan resistance yang potensial lalu kita lihat apakah mereka searah dengan level-level
Fibonacci retracement atau justru menyimpang.
Salah satu tool yang bagus untuk diduetkan dengan tool Fibonacci adalah analisis garis trend
atau trendline. Seperti yang sudah kita ketahui, level-level Fibonacci akan berfungsi
paling baik saat market sedang trending, jadi cocok bukan?
Dalam mengkombinasikan tool Fibo dengan pola candlestick, yang perlu kita cari sebenarnya adalah
candlestick yang exhaustive, artinya candlestick mendalam.
Di kelas ini, kita akan mempelajari beberapa teknik untuk memasang stop loss ketika kita
memutuskan untuk memercayai level-level Fibonacci sebagai "asisten" kita dalam bertrading.
Moving average adalah metode sederhana untuk membaca pergerakan harga.
Ada beberapa tipe moving average dan masing-masing memunyai
level pembacaan pergerakan harga yang berbeda, namun mereka memiliki
karakteristik yang sama.
Simple moving average dihitung dengan menambahkan periode terakhir "X" pada penutupan harga, kemudian membaginya dengan X.
Bingung? Jangan bingung, mari masuk kelas ini!
MA Eksponen atau Exponential moving averages, atau disingkat EMA, menaruh perhatian pada periode yang paling baru, yaitu harga
di hari ketiga, keempat, dan kelima. Mari kita bahas di kelas ini.
Kita tentu pernah mendengar kisah tentang kelinci dan kura-kura. Fabel mengenai dua binatang tersebut adalah analogi
termudah untuk perbandingan antara kedua jenis moving average. Menggunakan EMA membuat kita berpeluang menangkap sinyal
palsu pada periode konsolidasi harga. Sementara itu, dengan simple moving average apa yang kita dapat adalah
kebalikannya.
Salah satu satu cara kegunaan moving average adalah untuk membantu kita menentukan tren. Kita juga bisa mencoba menggunakan
lebih dari dua moving average pada grafik. Asalkan garis-garis tersebut sesuai dengan order.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, garis uptrend yang mengukur titik-titik support akan berubah menjadi garis resistance jika telah berhasil ditembus. Sebaliknya garis downtrend yang mengukur titik-titik resistance akan berubah menjadi garis support bila telah ditembus seperti contoh pada GBP/USD daily berikut ini: 1 : Titik-titik resistance pada garis downtrend sebelum garis trend ini ditembus. Perhatikan pergerakan harga akan mentaati garis ini selama belum ditembus. Ini menunjukkan karakteristik pelaku pasar yang selalu memperhatikan garis trend. 2 : Ketika garis downtrend telah berhasil ditembus, titik-titik harga selanjutnya pada garis ini adalah titik-titik support pada kondisi downtrend . Garis ini adalah bagian dari garis-garis channel trend yang akan diulas kemudian. Titik support tersebut bisa dikonfirmasikan dengan formasi doji yang terbentuk pada bar candlestick. Keadaan yang sebaliknya bisa terjadi pada kondisi uptrend. Jika telah be...
Kita tahu bahwa hanya sekitar 10% saja dari seluruh trader yang bisa benar-benar memperoleh keuntungan besar dalam jangka panjang. Lalu, bagaimana sebenarnya mereka bisa menghasilkan profit? Bagaimana cara berpikir mereka dan seperti apa proses trading dan rutinitas mereka? Apa yang mereka telah lakukan tetapi tidak dilakukan oleh sebagian besar trader? Dalam artikel ini Nial Fuller, seorang trader profesional yang juga mentor, memberikan pandangannya mengenai pertanyaan tersebut berdasarkan pengalamannya. Kurangi frekuensi trading Anda Seberapa besarkah frekuensi trading Anda? Seberapa sering Anda masuk pasar atau mengutak-utik posisi Anda? Sekali seminggu, tiga kali seminggu atau 20 kali? Atau mungkin Anda tidak pernah menghitung frekuensi trading karena memang tidak membuat jurnal trading. Dari pengamatan saya, jika Anda kebetulan tidak termasuk dalam 10% trader yang bisa memperoleh keuntungan besar dalam jangka panjang, Anda mungkin sekali trading jauh lebih sering. ...
Sebuah asumsi yang selalu diulang-ulang cepat atau lambat akan diterima sebagai sebuah kenyataan yang benar adanya. Dalam dunia trading forex ada asumsi “jika tidak mau rugi, maka kecil kemungkinannya untuk memperoleh profit (no pain no gain)”. Ada lagi asumsi “Anda seharusnya menentukan profit lebih besar dari resiko yang berani Anda ambil dalam setiap trade yang Anda lakukan”. Hal ini bisa dinyatakan dengan berbagai ungkapan: “Selalu tentukan perbandingan antara reward dan risk lebih besar dari 1” “Trading hanya dengan risk reward ratio minimum 1 : 1,5 ” “Jika Anda menentukan target profit lebih besar dari resiko, maka hasil trading Anda akan positif” “Penentuan risk reward ratio yang lebih besar dari 1:1 berarti Anda akan memperoleh profit yang lebih besar dari resikonya” Ungkapan-ungkapan tersebut bisa disimpulkan bahwa reward harus selalu lebih besar dari risk, atau risk reward ratio mesti lebih besar dari 1:1, bisa 1:1,5 atau 1:2 dan seterusnya. Banyak trader yang percaya b...