Bollinger Bands dikembangkan oleh John Bollinger bukan guyonan. Dia menggunakan indikator
ini untuk mengukur volatilitas pasar. Secara sederhana, indikator Bollinger Bands menunjukkan
pada kita kapan pasar tidak bersuara dan kapan pasar BERISIK!
Tool trading ini digunakan oleh sebagian besar trader untuk mengidentifikasi pergerakan rata-rata
(moving averages) yang mengindikasikan munculnya trend baru, yang bisa berupa bullish atau bearish.
Ada satu indikator yang bisa membantu kita untuk menentukan di mana kira-kira sebuah trend akan
berakhir adalah Parabolic SAR. Parabolic SAR menggunakan titik atau poin untuk menunjukkan
pembalikkan potensial dari pergerakkan harga di dalam grafik.
Stochastic
Di pelajaran kali ini kita akan mempelajari indikator Stochastic. Serupa dengan indikator di
pelajaran sebelumnya. Stochastic juga membantu trader untuk menentukan di mana sebuah trend
akan berakhir.
Relative Strength Index
RSI adalah salah satu trading tool yang paling populer di antara trader. Penyebab tingginya
popularitas indikator ini adalah karena fungsi keduanya, yaitu untuk mengkonfirmasi
formasi trend.
Average Directional Index
Average Directional Index adalah contoh lain dari oscillator. Indikator yang biasa disingkat
ADX ini memiliki skala antara 0 hingga 100. Pembacaan di bawah 20 mengindikasikan trend yang
lemah, sedangkan pembacaan di atas 50 mengisyaratkan trend yang kuat.
Ichimoku Kinko Hyo
Ichimoku Kinko Hyo adalah indikator yang memperkirakan momentun harga serta menentukan level
support dan resistance di masa yang akan datang. Pakai satu dapat tiga manfaat sekaligus.
Umumnya indikator ini digunakan pada pair yang mencantumkan JPY sebagai pasangannya.
Mengaplikasikan Semua Indikator
Sekarang setelah mengetahui cara kerja sebagian besar indikator, saatnya kita melompat masuk
ke dalam kubangan lumpur Forex. Seperti iklan salah satu deterjen dengan slogan "berani kotor
itu baik", jadi mari berkotor ria dengan beberapa contoh grafik dan cara kerja indikator.
Indikator Mana Yang Paling Menguntungkan
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Setelah pusing menghadapi indikator, sekarang
kita sampai di pelajaran yang paling menyenangkan: berapa banyak profit yang bisa dihasilkan
satu indikator?
Seperti telah disebutkan sebelumnya, garis uptrend yang mengukur titik-titik support akan berubah menjadi garis resistance jika telah berhasil ditembus. Sebaliknya garis downtrend yang mengukur titik-titik resistance akan berubah menjadi garis support bila telah ditembus seperti contoh pada GBP/USD daily berikut ini: 1 : Titik-titik resistance pada garis downtrend sebelum garis trend ini ditembus. Perhatikan pergerakan harga akan mentaati garis ini selama belum ditembus. Ini menunjukkan karakteristik pelaku pasar yang selalu memperhatikan garis trend. 2 : Ketika garis downtrend telah berhasil ditembus, titik-titik harga selanjutnya pada garis ini adalah titik-titik support pada kondisi downtrend . Garis ini adalah bagian dari garis-garis channel trend yang akan diulas kemudian. Titik support tersebut bisa dikonfirmasikan dengan formasi doji yang terbentuk pada bar candlestick. Keadaan yang sebaliknya bisa terjadi pada kondisi uptrend. Jika telah be...
Artikel ini adalah lanjutan dari bagian (1) artikel dengan judul yang sama Secara umum indikator moving average adalah lagging atau mengalami keterlambatan dalam menunjukkan nilai rata-rata yang dihitung. Nilai moving average terjadi setelah pergerakan harga, oleh karena itu indikator ini kurang cocok untuk memprediksi arah trend selanjutnya, hanya menunjukkan trend yang sedang terjadi, artinya pergerakan harga saat ini sedang uptrend atau downtrend. Untuk memperbaiki tampilan simple moving average yang perhitungannya sederhana dan cenderung lagging maka digunakan cara pembobotan pada harga akhir relatif terhadap harga-harga yang terjadi sebelumnya, atau pembobotan indikator simple moving average (sma) pada harga terakhir yang sedang diperhitungkan. Indikator moving average yang menggunakan cara ini dinamakan Exponential Moving Average. Exponential moving average (ema) Nilai pembobotan yang diterapkan tergantung dari periode waktu pe...
Sebuah asumsi yang selalu diulang-ulang cepat atau lambat akan diterima sebagai sebuah kenyataan yang benar adanya. Dalam dunia trading forex ada asumsi “jika tidak mau rugi, maka kecil kemungkinannya untuk memperoleh profit (no pain no gain)”. Ada lagi asumsi “Anda seharusnya menentukan profit lebih besar dari resiko yang berani Anda ambil dalam setiap trade yang Anda lakukan”. Hal ini bisa dinyatakan dengan berbagai ungkapan: “Selalu tentukan perbandingan antara reward dan risk lebih besar dari 1” “Trading hanya dengan risk reward ratio minimum 1 : 1,5 ” “Jika Anda menentukan target profit lebih besar dari resiko, maka hasil trading Anda akan positif” “Penentuan risk reward ratio yang lebih besar dari 1:1 berarti Anda akan memperoleh profit yang lebih besar dari resikonya” Ungkapan-ungkapan tersebut bisa disimpulkan bahwa reward harus selalu lebih besar dari risk, atau risk reward ratio mesti lebih besar dari 1:1, bisa 1:1,5 atau 1:2 dan seterusnya. Banyak trader yang percaya b...